Langsung ke konten utama

Postingan

Refleksi (Part 1): Cita-Cita Yang Kukira Pupus

Kadang aku berpikir, buat apa aku menulis disini, apa untuk dicuri orang untuk bahan narasi kontennya, atau berdebu karena toh gak menarik untuk dibaca, atau suatu saat akan membawaku pada kemenangan, iya, sekali waktu aku berandai, andai tulisanku ini bisa dijadikan buku dan bisa menginspirasi banyak orang, terkenal, diundang seminar, ah ya,,, namanya orang berandai... Kalau sekarang aku ditanya apa cita-citaku, jelas aku tidak tau, dan apa masih layak pada usia saat ini memikirkan cita-cita. Waktu kecil, kalau ditanya cita-cita jawabannya kalau gak guru, ya dokter hehe. Minimnya pengetahuan dunia luar, membuatku sudah bingung menentukan cita-cita, dan hanya terpaku pada hal-hal yang lawas. Hingga pada akhirnya aku benar-benar mewujudkan cita-citaku menjadi seorang guru.  Sosok muda yang naif, idealis, dan berambisi mengantarkanku meraih gelar sarjana. Tapi ternyata, menjadi seorang sarjana pendidikan pun tidak membuatku merasa puas dan menang. Hingga akhirnya aku diberi kesempata...

Kehilangan Diri (Part2) : Baby Blues

"aku kangen sama kamu, pengen dipeluk" "aa sini dikamar aku pengen ditemenin, jangan jauh-jauh" "aku sedih banget, perasaan aku sedih banget" "sesak banget dada aku, aku rasanya sedih banget, aku maunya nangis terus-terusan"  Begitu kata-kata yang keluar dari mulutku setiap hari selama 2 minggu berturut-turut setelah aku melahirkan. Nyeri yang bersisa di area vaginaku setiap hari rasanya membuatku semakin sedih. Belum lagi terlalu banyak aturan-aturan mitos ala jaman dulu yang membuat aku tambah tertekan. Gak boleh menekuk kaki. Gak boleh jongkok. Harus begini, harus begitu, membuatku benci pada diriku sendiri. Aku benci karena aku merasa kenapa aku harus melakukan semua itu, yang tidak masuk pada logikaku. Aku menjadi cemburu pada bayiku, aku merasa dunia tidak adil, dunia lebih peduli pada bayiku dari pada aku yang sakit setelah melahirkannya. Aku menjadi benci pada banyak hal, bahkan hari-hari pertamaku sebagai ibu. Aku benci saat ...

Kehilangan Diri (Part 1) : Berhenti Kerja

Jujur, aku masih butuh pekerjaan itu dulu, namun aku sudah tidak kuat karena sudah ada indikasi dibuat untuk resign. Hari demi hari semakin terasa seperti di neraka. Padahal, gajinya lumayan untuk aku menabung, dan untukku kontrol behel, dan mempersiapkan perlengkapan bayi. Jujur, masih sangat butuh pekerjaan itu. Sore itu, aku pulang ditengah gerimis, dengan mual diperutku karena hamil muda. Aku menangis disana, disepanjang jalan puri indah - srengseng menuju kost-kostan ku yang berlokasi di Kebon Jeruk. Menangis dan mengucapkan banyak doa dan harapan disepanjang jalan, aku yang masih ingin menerima gaji setiap bulan terpaksa harus kehilangan penghasilan. Hari-hari terasa sangat lambat, aku banyak tidur saat itu, untuk melupakan perasaan dan masalah. Tidak jarang masih dihubungi teman mengenai pekerjaan, benci rasanya. Saking sedihnya, disetiap tidur aku masih memimpikan masa-masa aku bekerja dan bercanda dengan teman-teman. Aku selalu bangun dengan perasaan mendung. Merat...

Hari Ulang Tahun Inara

 "Nara ! NARA !", papa Andri panik "Hah, Nara kejang! Inara Kejang !" , mama kaget melihat Inara dengan keadaan kedua kaki dan tangan menghentak-hentak "Nara,, nara sayang mama naraaa naraaa" mama memamnggil Inara berharap Inara tersadar, Papa dan Mama kebingungan dan panik, tidak tau harus berbuat apa, kami segera membawa Inara ke klinik dekat rumah. Mama memandangi mata Inara yang kosong, bibir pucat dan mengeluarkan sedikit busa, mama pandangi kaki dan tangan Inara yang terus menghentak-hentak. Papa Andri panik mengendarai motor, dan tidak menghiraukan lagi saat topinya yang terbang. Papa panik dan tidak malu memanggil nama Inara sambil menangis. Sesampainya di klinik, dokter dan perawat disana dibuat panik karena kami datang dengan panik.  Tidak sadar, mama tidak mengenakan kacamata, mama tidak mengenakan kerudung, kancing baju mama juga comang camping. Hari itu hari yang buruk, bagai mimpi buruk disiang bolong. Tidak pernah menyangka aku m...

Ibu, Ibarat Karya Seni

Pertama kali menjadi ibu, adalah perasaan paling abstrak yang pernah aku rasakan. Terlalu banyak yang harus aku relakan, aku perjuangkan, dan terlalu banyak yang harus aku pelajari. Menjadi ibu tidak semudah itu, dan menjadi ibu tidak sesepele itu. Menurutku, menjadi ibu adalah hal yang paling harus kita persiapkan, tapi kita lupa persiapkan. Apasih yang kamu persiapkan ketika ingin menikah ? Mengikuti konseling ? Membaca buku-buku parenting ? Konsultasi dengan psikolog? Mempelajari kembali ilmu reproduksi ? Seberapa banyak usaha yang sudah kamu luangkan untuk mempersiapkan diri menjadi seorang istri dan ibu ? Menjadi ibu biasanya dianggap sepele, hadirnya seorang anak menjadi tuntutan hasil dari hubungan seksual suami dan istri. Padahal, menjadi ibu tidak semudah itu, dan kita perlu ilmu. Tidak perlu menjadi tenaga kesehatan untuk sekedar tau ilmu dasar kesehatan ibu dan bayi, tidak perlu menjadi guru untuk sekedar bisa menstimulasi tumbuh kembang anak, tidak perlu menjadi manajer, un...

Episode yang Terputus

Hari-hari berlalu terlalu cepat dan hari-hari terasa sangat sibuk. Aku melewati banyak hal sejak tulisan terakhir aku buat, dan aku merasa butuh untuk kembali kesini untuk menulis dan merasa berteman. Iya, berteman, karena sejauh ini aku merasa sedikit memiliki teman, sedangkan aku butuh untuk bercerita, menuangkan hasil pikiran, merasa didengar dan diterima. Aku tidak berharap orang lain atau siapapun membaca isi hati dan pikir yang aku simpan disini, namun aku yakin dengan aku ada disini aku akan merasa lebih baik. Bingung, ingin mulai dari mana, mungkin aku akan ceritakan perasaan aku hari ini. Suami ku sering pulang malam karena banyak pekerjaan, dia sudah tidak menjadi seorang freelancer lagi, kini dia menjalani karirnya sebagai seorang Script Doctor di sebuah Production House  besar di Jakarta. Dulu, saat kami terdampak covid, aku pernah berdoa, meminta agar suamiku dapat pekerjaan dan punya penghasilan yang stabil, supaya kami bisa menata masa depan. Januari 2021, suamiku po...

Inara Tertawa

Mungkin, aku sering menjadi orang yang kufur terhadap nikmat. Banyak kebaikan-kebaikan semesta yang aku lupakan, ketika aku menemui susah. Ntah, apa Tuhan mengampuniku atau tidak. Tapi jauh dalam batin aku sudah mengakuinya. Banyak hal baru yang Inara beri pada kami semua. Bahagia menjadi begitu sederhana karena hadirnya. Bahkan bunyi kentutnya pun mampu membuat kami tertawa bahagia. Hehe Baru siang tadi, Inara tertawa terbahak. Bukan yang pertama kali, tapi kali ini yang terpanjang yang pernah dia lakukan. MasyaAllah, aku hampir meneteskan air mata haru. Betapa waktu sudah benar-benar berlalu. Inara yang dulu tumbuh didalam diriku, bergantung pada kerja tubuhku, kini ia semakin banyak memiliki mampu. Betapa Tuhan ingin menunjukkan padaku akan kekayaan yang Dia limpahkan padaku. Kejadian besar yang dikirim melalui hidup Inara padaku. Seharusnya mampu membuatku belajar materi-materi kehidupan yang baru. Iya, tawa Inara adalah keindahan yang mampu menyejukkan batinku yang ker...