"Nara ! NARA !", papa Andri panik
"Hah, Nara kejang! Inara Kejang !" , mama kaget melihat Inara dengan keadaan kedua kaki dan tangan menghentak-hentak
"Nara,, nara sayang mama naraaa naraaa" mama memamnggil Inara berharap Inara tersadar,
Papa dan Mama kebingungan dan panik, tidak tau harus berbuat apa, kami segera membawa Inara ke klinik dekat rumah.
Mama memandangi mata Inara yang kosong, bibir pucat dan mengeluarkan sedikit busa, mama pandangi kaki dan tangan Inara yang terus menghentak-hentak. Papa Andri panik mengendarai motor, dan tidak menghiraukan lagi saat topinya yang terbang. Papa panik dan tidak malu memanggil nama Inara sambil menangis. Sesampainya di klinik, dokter dan perawat disana dibuat panik karena kami datang dengan panik.
Tidak sadar, mama tidak mengenakan kacamata, mama tidak mengenakan kerudung, kancing baju mama juga comang camping. Hari itu hari yang buruk, bagai mimpi buruk disiang bolong. Tidak pernah menyangka aku melihat anakku kejang. Khawatir sekali, khawatir hari itu hari terakhir aku bersama Inara :( ini kali pertamaku melihat anak kejang, dan sungguh aku tidak ingin lagi mengalaminya. Setelah Inara sadar dan menangis, kami segera membawanya ke IGD di rumah sakit terdekat. Karena tidak membawa HP, dan dompet, kami kebingungan memesan grab car :(. Beruntung, ada orang baik yang mau mengantarkan kita kerumah sakit terdekat. Terimakasih ya, maaf ya waktu itu kami gak ada yang pakai masker, dan ternyata kami covid :( , semoga kakak sekeluarga sehat selalu, terimakasih atas kebaikannya udah mau antar kita.
Sesampainya di rumah sakit, kami daftarkan administrasi terlebih dahulu. Petugas bertanya, "mandiri, asuransi, atau BPJS?" disaat itu aku baru tau kalau IGD bisa pakai BPJS, papa Andri segera menjawab BPJS. Beruntung, BPJS membantu kami, tidak keluar uang jutaan rupiah untuk biaya rumah sakit.
Setelah itu Inara baru mendapat pelayanan dari salah satu dokter jaga disana, dijelaskan bahwa Inara akan di rawat inap, agak bingung kok belum apa-apa udah diinformasikan akan dirawat inap, katanya untuk mengobservasi kejangnya, khawatir berulang dalam waktu 24 jam. Namun sebelumnya, Inara akan di swab antigen dan rontgen thorax terlebih dahulu. Ya, setelah swab antigen, ternyata Inara reaktif. Inara reaktif covid :(.
Mama merasa kurang enak badan hari itu, pukul 21:00 mama pusing dan badan serasa linu semua. Mama pulang dan membeli obat-obatan, dengan asumsi mama juga covid.
Malam itu, kejadian Inara kejang berputar-putar dikepala, mama sedih sekali dan sangat trauma. Ketika berusaha memejamkan mata, terulang kembali kejadian Inara kejang, dengan bibir ungu pucat, mata menatap keatas, mulut sedikit berbusa, dan kaki dan tangan menghentak-hentak. Cobaan dari Allah kali ini menguji perasaan mama atas Inara, benar-benar mengagetkan kejadian Inara kejang hari itu.
Hari berlalu lama sekali ketika Inara dirawat inap dirumah sakit, Inara dijaga sama papa 3 malam, dan sama mama 2 malam. Ternyata Inara juga mengalami DBD karena ditemukan Trombositnya turun :( yang menyebabkan Inara harus dirawat 5 malam 6 hari lamanya.
Beberapa bulan yang lalu, mama dan papa merencanakan jalan-jalan ke Jogja untuk merayakan hari ulang tahun Inara. Namun, ternyata budgetnya harus digunakan untuk keperluan lain. Mama Papa harus membayar keperluan DP beli rumah dengan nilai yang cukup fantastis bagi kami.
Takdir Allah pun berkata lain, Inara harus mengalami kejadian dirawat di Rumah sakit selama seminggu. Waktu itu, sebentar lagi hari ulang tahun Inara. Hati mama bingung meresponnya, mama tidak sempat menyiapkan apa-apa untuk hari ulang tahun Inara. Tepat dihari ulang tahunnya, Inara keluar dari rumah sakit. Perasaan kami bahagia sekali, namun tidak ada perayaan. Inara anak yang ceria, hari itu dia pun sangat ceria, bisa mandi dirumah sakit sebelum pulang. Saat Uti dan Kakung menjemput Inara kerumah sakit, ternyata Uti dan Kakung menyiapkan sebuah kue ulang tahun. Mama bersyukur sekali, Inara jadi lebih bahagia, karena ada kue "kue kue kue" katanya, Inara juga seneng banget bisa tiup lilin.
Dear Inara, mama mau minta maaf, pada 2 tahun pertama di kehidupanmu, mama udah banyak sekali salahnya. Mama belum bisa jagain Inara dari sakit, mama masih suka marah dan membentak, mama suka nyuekin Inara karena harus mengerjakan pekerjaan lain, mama suka males ajak main Inara karena mama lelah.
Dear Inara, maaf ya, mama gabisa beliin hadiah mahal buat Inara, mama juga bingung mau buat perayaan ulang tahun yang bagaimana. Maaf mama masih perhitungan pada uang, dan memilih untuk hemat. Maaf mama belikan Inara diapers/popok yang murah, maaf mama beliin Inara baju-baju diskon, maaf bahkan sering Inara pakai produk endors. Maaf ya Inara, Inara udah banyak mengerti keadaan, Inara anak baik, selalu mau nerima apapun yang mama beri. Inara anak baik, selalu ceria dan bahagia meskipun cuma dibeliin mainan harga 5000 atau naik odong-odong.
Inara mengajarkan mama arti bahagia, segelas teh hangat aja jadi lebih terasa bahagia ketika minumnya bareng Inara, "wuaaaah...." kata Inara ketika melihat segelas teh hangat. Inara selau bisa jadikan hal sederhana menjadi lebih bernilai.
Inara sehat selalu ya....
Maaf ya, mama gabisa kasih banyak hal.
Hal terbaik yang bisa mama beri saat ini cuma hidup dan waktu yang mama miliki.
Komentar
Posting Komentar