Langsung ke konten utama

Postingan

Inara Tertawa

Mungkin, aku sering menjadi orang yang kufur terhadap nikmat. Banyak kebaikan-kebaikan semesta yang aku lupakan, ketika aku menemui susah. Ntah, apa Tuhan mengampuniku atau tidak. Tapi jauh dalam batin aku sudah mengakuinya. Banyak hal baru yang Inara beri pada kami semua. Bahagia menjadi begitu sederhana karena hadirnya. Bahkan bunyi kentutnya pun mampu membuat kami tertawa bahagia. Hehe Baru siang tadi, Inara tertawa terbahak. Bukan yang pertama kali, tapi kali ini yang terpanjang yang pernah dia lakukan. MasyaAllah, aku hampir meneteskan air mata haru. Betapa waktu sudah benar-benar berlalu. Inara yang dulu tumbuh didalam diriku, bergantung pada kerja tubuhku, kini ia semakin banyak memiliki mampu. Betapa Tuhan ingin menunjukkan padaku akan kekayaan yang Dia limpahkan padaku. Kejadian besar yang dikirim melalui hidup Inara padaku. Seharusnya mampu membuatku belajar materi-materi kehidupan yang baru. Iya, tawa Inara adalah keindahan yang mampu menyejukkan batinku yang ker
Postingan terbaru

Scrub Wajah Andalanku | Review St.Ives Energizing Coconut & Coffee

Aku bukan type orang yang gila skin care. Tapi aku juga bukan type orang yang cuek bebek sama kulit. Dan aku juga memiliki beberapa skin care andalan sebagai media perawatan pada kulit. Kali ini aku ingin mereview scrub wajah yang sudah berkali-kali aku repurchase, yaitu face scrub dari St.Ives. Awalnya aku tau produk ini dari teman aku yang gila banget sama skin care. Segala skin care dia punya karena dia punya permasalahan dengan kulit wajahnya. St.Ives yang pertama kali aku beli yang varian Apricot, dan produk itu udah terkenal banget. Dulu aku beli sewaktu St.Ives belum join sama Unilever. Sekarang St.Ives udah join sama Unilever dan bisa dibeli di Shopee Mall Unilever dengan harga yang lebih terjangkau. Yang aku suka dari face scrub ini yaitu benar-benar melembutkan kulit dan membuat kulit wajah lebih glowing. Face Scrub ini melembabkan kulit ya teman-teman, jadi bukan face scrub yang bikin kulit kering kerontang sampai mengelupas gitu. Juga, pada satu tubenya isinya b

Ekstrover di Tengah Pandemi

Dulu, saya berpikir saya seorang introver. Malas bergabung dengan banyak orang. Senang menyendiri. Senang dengan buku, dan film, menutup diri dari pergaulan. Dulu, saya kenal sama orang yang udah bikin saya segitu tertutup. Yah, bisa dibilang saya korban PHP. Sedikit banyak saya menyesal, kenapa gak dari dulu saya sadar kalau saya sebenarnya adalah seorang ekstrover. Kalau saja saya sadar sedari dulu, mungkin sudah banyak pengalaman yang saya dapatkan. Hiks. Menjadi kupu-kupu saat kuliah adalah salah satu penyesalan saya. Dipenghujung kuliah saya mulai banyak mengajar les. Disitu saya mulai merasa nyaman bertemu dengan banyak orang baru dan berinteraksi dengan banyak murid. Setiap kali ingin mengajar, saya merasa senang dan excited. Karena ingin bertemu dengan siswa-siswa saya. Setelah itu, saya bekerja sebagai Marketing Komunikasi di sebuah brand kosmetik lokal, 'Madame Gie'. Sebagai brand baru, dan perusahaan yang masih belum settle. Disana saya mengerjakan

Kelahiran (part 2) : Tidak disangka, Hari itu Tiba

(Hari Selasa, Pukul 23.30) "Kita beneran mau berangkat ketempat bu Iin?" tanya saya pada suami yang terlihat pada air muka nya terisi dengan sirat bahagia. Dia baru saja berganti baju, bersiap mengenakan topi dan sweater nya. Malam itu, kita bersiap ingin berangkat ke klinik bidan dimana kita memutuskan untuk melahirkan disana. Perasaan saya yakin gak yakin. Saya masih mikir ini cuma kontraksi palsu. Dan saya belum ingin melahirkan. "Aku belum terlalu yakin. Takutnya malah disuru pulang lagi" kata saya ketika itu. "Coba kita tunggu sebentar lagi ya, kita liat kontraksinya" kata suami. 5 menit, 4 menit, kontraksi datang. Ternyata ini yang namanya kontraksi. Rahim mengeras, rasanya kayak sedang memeras sesuatu. Rahim sedang bekerja, membantu bayi untuk lahir. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi. Aplikasi kontraksi sudah berkali-kali memberi peringatan untuk saya pergi menghubungi provider atau datang ketempat provider. Saya bersiap mengis

Kelahiran (Part 1) : Bermula dari Tidak Mungkin

Kira-kira seminggu lebih 2 hari yang lalu sebelum saya melahirkan. Saya datang untuk kontrol mingguan dengan bu bidan Iin. Jarak yang lumayan jauh ditempuh, menggunakan motor, dari rumah orang tua saya menuju tempat klinik bidan Iin. Sampai sana saya menunggu cukup lama. Karena sedang ada pasien melahirkan. Sebenarnya ada banyak bidan jaga disana. Tapi ketika itu saya tetap ingin menunggu bu Iin selesai menangani pasien. Sambil mengelus perut dan berbicara sedikit pada sang jabang bayi, "baby kapan mau keluar nak? Temen-temennya udah pada lahir, nanti lahirnya disini aja ya sama bu bidan", kata saya sembari mengelus perut. Akhirnya bu Iin selesai. Datang menghampiri saya dan saya diperiksa oleh beliau. Perasaan saya tidak enak. Melihat ekspresi bu Iin seperti bingung, dan berpikir sambil meraba-raba perut saya. Beliau masih belum bicara dan terus meraba perut saya, lumayan lama tidak seperti biasanya. Pinggul saya beliau tekan sampai nyeri rasanya. Akhirnya bu

Kehamilan (Part 2) : Hamil itu Enggak Murah. Hamil itu Enggak Mudah

Katanya, "Knowledge is Power"I Iyasaya setuju, yang namanya pengetahuan akan jadi kekuatan. Dari judul di atas, bukan ingin menakut-nakuti atau membuat kawan-kawan menjadi insecure. Tapi saya hanya ingin sharing, dan semoga dapat menjadi referensi berpikir bagi orang lain. Banyak dari kita sebelum menikah biasanya disibukkan dengan persiapan pernikahan. Dulu, sebelum menikah, saya asik dengan kegembiraan itu. Tidak terlalu memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya. Ya, mikirin sih, secara sadar saya tau kemungkinan besar saya akan hamil, keluarga saya akan terus bertumbuh, gak terus2an happy-happy berdua aja kaya orang pacaran. Tapi ternyata hamil itu gak mudah. Juga gak murah. Menjadi seorang ibu hamil membuat saya banyak berpikir. Bagaimana caranya saya dapat memberikan segala yang terbaik untuk kehamilan saya dengan kemampuan yang ada. Kebutuhan ibu hamil menurut saya sangatlah banyak. Tidak hanya kebutuhan yang berkaitan dengan fisik, tapi juga batin. Ib

Kehamilan (Part 1) : Belum Juga Telat

Memiliki kecenderungan haid yang enggak teratur membuat saya agak panik ketika mengetahui sebulan pernikahan tespack belum juga menunjukkan garis dua. Masalah haid kembali datang. Flek, haid berkepanjangan, makin menambah keresahan saya. Saya takut, sulit hamil dan harus melakukan perawatan tertentu untuk mendapatkan kehamilan. Saat itu saya menjadi sangat mengidam-idamkan kehamilan. Asam folat sudah saya konsumsi dari sebelum menikah, semata-mata dilakukan untuk menyambut kehamilan. Waktu itu, sebulan pernikahan saya tiba-tiba saya sakit. Demam tinggi, kepala pusing, badan semua sakit. Khawatir hamil. Saya testpack terus-terusan. Khawatir konsumsi obat-obatan. Sampai puncaknya ga kuat lagi nahan semua sakit. Akhirnya kedokter juga, ternyata ISK, demam karena infeksi, karena disertai anyang-anyangan juga. Mau minum obat juga masih parno. Testpack berharap hasilnya garis dua, ga peduli sama sakit dan harus minum obat. Tapi ternyata testpack masih menunjukkan garis satu, ag