Langsung ke konten utama

Postingan

Hari ke-sembilan

Lapangkah aku jika harus merelakannya pergi lagi. Malam-malam ramadhan yang penuh kehangatan. Kini masuk dimalam ke sembilan. Dzalimkah aku jika tertahan sedikit rindu pada yang lain. Bagaimana caranya aku memelukmu wahai ramadhan. Kau ruang penuh kasih, penuh cinta. Aku hanya makhluk penuh alfa. Sebenarnya aku malu, ingin meminta melalui tubuh mu. Doa-doa yang mengendap kini mulai sesak. Bolehkah kumanfaatkan engkau tukku merajuk atas terkabulnya doa-doa itu ? Sulit, Mengapa sulit menjadi hamba yang tak pamrih dan merasa cukup tulus mencinta. Aku sadar saat ini kusedang pamrih, dan mengharap egoku terwujud. Yaa, Kupikir-pikir... Baiknya kulapangkan hati mulai saat ini jika memang jalan rasa ini harus pergi dariku lagi.

Wisuda

Euporia Wisuda ! Apa yang membuat kita girang banget pas wisuda ? Apa yang membuat kita bangga pas wisuda ? Berkali-kali aku bertanya pada diri sendiri... Hemm,,, Jujur, dihari Wisuda menjadi salah satu hari yang paling membahagiakan. Karena merasa begitu dicintai sama banyak orang, banyak teman datang dengan membawa hadiah. Seumur hidup aku belum pernah dapet hadiah sebanyak waktu aku sidang skripsi dan wisuda. Terimakasih Semuanya !!! Dan yah, aku sejujurnya gak terlalu bangga sama gelar yang resmi aku sandang. Apa yang buat aku bahagia, kayaknya emang cuma kehadiran teman-teman. Banyak orang bilang pencapaian ini untuk orang tua. Hemmm, duh, kok sulit ya aku merasa bangga sama diri aku sendiri. Aku justru takut dan khawatir, takut aku gak bisa berdiri sendiri setelah wisuda nanti. Aku khawatir, aku tidak bisa menjadi apa yang sebenarnya diharapkan orang tua. Ahhh, Aku rasanya belum pernah bangga terhadap diri sendiri. Aku akan lebih bangga kalau kelak aku sukse...

Bersalah

Pagi selalu diawali dengan hal yang serupa. Sambil menunggu bubuk teh terseduh sempurna. Sepasang orang tua mulai bercerita. Kini mereka memang masih terbilang cukup muda untuk dikatakan sebagai orang tua. Tapi bagiku tak terasa mereka kini kian menua. Bahasan cerita mereka mulai soal helai rambut memutih atau gigi yang mulai goyang. Tuhan, aku belum sanggup melihat mereka menua. Aku ingin mereka tetap kuat, sehat, dan muda. Mendampingiku dalam setiap langkah. Mengomeliku dalam segala salah. Cerita-cerita itu, cukup menyentuhku. Tentang siapa sosok mereka dimasa lalu. Aku terdiam pura-pura tak dengar didalam kamar. Aku perhatikan betul cerita mereka yang semuanya dalam bahasa Jawa, yang sudah seperti bahasa ibu. Aku dapat mengerti semuanya tanpa celah. Memungut sepatu yang terdampar disungai untuk dipakai sekolah. Mencuri buah jambu tetangga karena lapar. Menangis karena tak ada lauk. Malu karena disuruh kasbon garam diwarung. Diejek teman karena miskin. Dan masih b...

Sarkas

Tadi pagi sengaja aku tenggelamkan tubuhku ditengah kabut. Jarang sekali aku bertemu dengan sahabat alam yang satu itu. Girang aku melihatnya, aku dapat bertemu sahabat ku yang mungkin jauh. Udara yang lembab, tanaman, tanah yang basah, pohon yang berbuah, selalu berbagi energi yang tidak pernah jelek, Selalu bisa meredam yang meracau pada inti tubuh manusia. Rasanya teduh sekali berada ditengah-tengah mereka. Terbesit sedikit, Samakah teduhnya itu ketika aku terbenam menyatu bersama bumi kelak. Ah, Terlalu biasa jika ku katakan waktu cepat berlalu. Mungkin kalau dikatakan dengan kata lain, bisa jadi aku mengaku begitu menikmati waktu. Dipenghujung hari ditahun yang tak lagi terlalu muda ini, Aku ucap syukur atas segala luka yang mungkin lebih perih rasanya. Aku sadar, itulah bukti kemurahan Tuhan yang telah kabulkan doa-doa yang berbunyi "Jadikanlah aku lebih kuat". Ah, sebenarnya aku sedang sarkas. Iya, aku menikmati sekali waktu yang berlalu itu. Sampai-sam...

Masa Lalu

Masa, waktu. Dua puluh dua tahun sudah, aku tumbuh. Memiliki masa remaja yang galau, mengenangnya menjadi agak kurang seru. Masa itu telah berlalu. Aku belajar banyak hal. Yang pelajaran itu benar-benar kupetik dari perjalanan hidupku. Kupikir, masa remaja yang galau tiada gunanya. Tapi kini kusadar ada hikmahnya. Masa lalu. Dia bukan pilihan yang tepat jika kita diminta untuk memilih diantara beberapa pilihan. Dia juga bukan kambing hitam yang boleh disalahkan. Karena hikmah hari ini dan besok adalah buah hasil masa yang lalu. Masa lalu. Membawa kita berpikir lebih baik. Merasa lebih baik. Memahami lebih baik. Sesal sudah tidak perlu. Jalan panjang didepan menuntut kita menjadi pelajar yang baik bagi hidup. Aku yakin, besok kita bisa lebih bahagia dari hari ini. Jika benar ada mesin waktu. Meski benar bisa kuubah sesal waktu itu. Aku pastikan tidak akan pernah kembali kemasa lalu.

Sekufu

Pertamakali kutau kata itu saat seseorang yang cukub nyeleb di Instagram membahas soal 'kufu'. Ah,,, langsung aku mengawang siapa yang sekiranya sekufu denganku. Membayangkan sekufu dengan yang agak tinggi, ah tapi kok aku merasa rendah. Membayangkan sekufu dengan yang agak rendah, ah tapi siapa aku bisa-bisanya merendahkan. Lantas sekufu yang bagaimana. Sepertinya kufu tidak bisa dinilai oleh manusia antar manusia. Itu penilaian Tuhan atas siapa dengan siapa akan dipersatukan. Jodoh, mengapa sulit sekali tuk diterawang. Ada ciri-cirinya, tapi tetap tak bisa dijawab dengan akal. Ah,, pikiranku kini terbawa. Andai aku sudah bertemu dengannya, haruslah dia adalah orang yang mampu membuatku merasa lebih damai sepanjang perjalanan rasaku. Jika sudah begitu, mungkin aku sudah tak perduli dengan seberapa ukuran sekufu.

Lebak Bulus

Pertengahan 2013 lalu aku pertama kali kesini. Dulu, jalanan dilampu merah itu lebar dan tak seamburadul saat ini. Dulu, disana banyak berjejer bus besar, angkutan antar kota dan provinsi. Yahh, yang aku tak suka hanya terkadang suka tercium aroma pesing dan khawatir ada maling. Kian waktu berlalu, Dulu, aku rutin naik angkutan D Nol Satu. Sebelum naik D Nol Satu, aku ikut Trans Jakarta untuk mengantarkan jiwa ragaku antara kampus dengan rumahku. Dulu, Armada Trans Jakarta Harmoni - Lebak Bulus tidak sebanyak sekarang. Kutempuh waktu dari pukul 16.00 hingga isya' untuk sampai ditempat kost. Tak jarang aku berdiri berdesakan, tak kebagian duduk. Saat baru dapat duduk, ibu-ibu paruh baya menatapkan matanya padaku, berharap aku berikan tempat dudukku. Pegal, iya, dengkul ini rasanya kaku. Tapi, yasudahlah, aku berdiri dan ku persilakan si ibu. Kian waktu berlalu, Tak lagi aku lakukan rutinitas itu. Aku merasa waktu yang ditempuh cukup lama. Tak sabar rasanya. H...