Sebenarnya, ini cerita sederhana dan sudah lama, tapi menjadi perenungan panjang untukku. Berawal dari kisahku memulai bergabung dengan temanku berdagang kerudung, tidak berlangsung lama memang, tapi saat itu rasanya setiap proses yang ada menjadi berarti.
Awal mula, aku akui aku memang anak yang galau, entahlah, kenapa aku bisa-bisanya galau berkepanjangan. Sahabatku Karina, berinisiatif mengajakku bergabung di bisnis kecil-kecilannya,
"May, jualan kerudung yuk sama gue, dari pada luh galau melulu"
Yups, ajakannya aku sambut baik, sebelumnya aku pernah bantu-bantu sedikit dibisnis aksesories milik seniorku, aku pernah temani seniorku berbelanja berbagai macam mute dan perlengkapan untuk keperluan bisnisnya di Pasar Asemka. Setelah itu aku belajar meronce mute-mute tersebut menjadi aksesories cantik yang kemudian siap untuk dijual. Dari sana, aku belajar perjuangan seseorang yang bercita-cita ingin menjadi pengusaha. Asyik memang, tapi lelah minta ampun.
Lanjut soal Karin. Karina kemudian menjelaskan bahwa dagang bersama dia akan melelahkan dan belum bisa langsung mendapat keuntungan. Gak apa-apa, aku mau, aku niatkan benar-benar untuk belajar. Rasa-rasanya aku ini kalau sudah niat mau belajar, urusan uang udah nomer sekian.
Dulu, aku ingat modal pertama kami masing-masing Rp.400.000. Dari uang itu kami bisa belanja beberapa helai kain. Dengan semangat, kami pergi ke Tanah Abang. Siang-siang dan panas. Dulu pertama kali kendarai motor, aku yang membawa motor, ternyata pengeluaran lebih banyak, karena bayar parkir ditanah abang itu 2 kali-_-. Pas datang kami diminta bayar, pas pulang dimintain lagi-_-. Besoknya, kami pergi naik KRL. Itu kali pertama aku berangkat naik KRL dari stasiun Bojong Indah. Jalan kaki dari rumah Karina menuju Stasiun, lumayan, capek kalau jalan. Tapi waktu itu masih semangat-semangatnya. Aku yang masih kaku sama KRL, lebih banyak mengikuti Karina. Dari Bojong Indah, transit di Duri. Sesampainya di Stasiun Tanah Abang, kami masih harus jalan dengan jarak yang lumayan jauh. Tempat kami beli bahan itu di blok A. Kami berjalan kaki dari stasiun ke Blok A.
Capek. hehe
Tapi aku diam saja, tidak ingin mengeluh didepan Karin. Masih keliling-keliling, bertanya ke abang-abang disana, membandingkan harga, dan membandingkan warna-warna yang tersedia di toko. Bertanya-tanya soal bahan-bahan. Kami jadi tau beberapa jenis bahan seperti wolfis, double hycon, jaguar, shiffon, dll. Kami juga jadi punya langganan saat itu. Aku yang saat itu belum sempat sarapan pagi. Perut laper banget, mana udah jalan segitu jauh, kelihatan lemas. Karin memahamiku cukup cepat "May, cape yah ? Laper?". Aku sebenarnya malu buat ngeluh, tapi emang beneran laper, kemudian aku menangguk, dan Karin menimpali "duh kasian banget, nanti kita beli bakso yah May".
Perjalanan pulang kami menuju Stasiun, kita pesan bakso dipinggir jalan. "Alhamdulillah makan" gumamku dalam hati hahaha. Gak kebayang deh gimana lemesnya waktu itu. Saat sedang menunggu pesanan, ada kakek tua jualan tissue, tubuhnya bungkuk, jalannya sudah payah, Karina tiba-tiba menghampiri, "Pak, beli tissuenya satu, berapa?" aku lupa harga tissue itu berapa, kemudian Karina mengeluarkan uang Rp.10.000. Si Kakek menerima uang tersebut kemudian cekatan mengambilkan uang kembalian, Karina cepat mengatakan "Kek kembaliannya ambil aja". Aku tertegun, rasa laparku hilang, tapi mangkuk yang kupegang masih penuh, "Karin baik banget" kataku dalam hati.
Lanjut cerita, kami berkali-kali ditolak tukang jahit karena kami mau jahit neci dengan menggabungkan 2 kain menjadi satu.
Pusing, kami datang kerumah teman kami yang orang tuanya punya usaha konfeksi, kemudian direkomendasikan ke pasar Cengkareng, tapi kami mengeluhkan biaya parkir setiap datang menaruh dan mengambil, itu menambah pengeluaran, kemudian cari tempat lain, ditolak, diocehin sama bapak-bapak. Gak menyerah, masih nyari tempat lain. Akhirnya bisa ngelobby tukang jahit di pasar Bojong, disana gak bayar parkir, setelah tawar-menawar, akhirnya tukang jahitnya mau. Dia paham, kita lagi usaha buat jualan, fyuhhh. Alhamdulillah.
***
Pada suatu ketika kami foto produk, waktu itu kita pergi ke Masjid Al-Ahzom Tangerang. Semangat banget mau foto, karena aku yang akan menjadi modelnya. Ini foto produk pertama kami, masih keliatan kaku.
Waktu itu fotonya langsung diposting ke instagram, aku belum ada ide untuk edit di photoshop, saat itu hanya ditambahkan watermark 'Safa Hijab'.
Saat semua produk selesai difoto, kami ngobrol-ngobrol berdua, sambil bercanda. Lewatlah bapak-bapak paruh baya membopong dagangan. Aku sendiri belum bisa memahami itu bapak-bapak jualan apa. Tapi Karin panggil bapak-bapak itu "Pak, pak, beli". Lagi-lagi aku mematung menyaksikan kejadian ini. Karina beli dagangan bapak tersebut, ternyata bapak itu jualan tahu sumedang gitu, "Berapaan pak ?" tanya Karin, duh aku lupa lagi waktu itu harganya berapa, yang aku ingat Karin beli 2 bungkus, dan aku juga lupa Karin bayar dengan uang pecahan berapa, "Bawa aja buat bapak sisanya" tambah Karin. Aku masih mematung, "MasyaAllah, tulus banget hatinya Karin" kataku dalam hati.
Hari berganti hari, ada saat pesanan kami banyak, ada juga saat kami temui masalah. Hah. Sedih kalau diingat, masih teringat perasaan waktu itu. Singkat cerita, tiba pada saat kami mulai lelah. Bolak-balik Tanah Abang tuk beli beberapa helai kain, menjahitnya, membungkusnya, mengirimnya, untung yang kami dapat benar-benar sedikit, belum bisa dibagi hasil. Modal kami menipis, kami hanya bisa melayani pre order karena kami gak ada modal tuk beli kain, jadi kami hanya beli kain saat ada pesanan. Kadang pesanan sedikit, tapi kami harus tetap ke Tanah Abang, iya lelah.
Pada suatu ketika Karin bilang "May, rejeki itu gak bakal ketuker, coba lu liat bapak-bapak jualan racun tikus aja laku May, dia bisa makan, ngehidupin keluarga, masa iya dagangan kita gak laku", aku terpaku mendengar ucapan Karin, tersadar aku memang orang yang jauh dari rasa bersyukur.
Tidak sampai setahun, kami berhenti berjualan. Aku sibuk dengan kegiatan PPKT yang pada saat itu juga banyak sekali masalah. Dan Karina sibuk dengan pekerjaannya dikantor, saat itu dia sudah mendapatkan pekerjaan yang sesuai, dan terlebih lagi dia sedang mempersiapkan pernikahannya kala itu. Hingga akhirnya ia menikah.
Aku pernah iri dengan Karin, pekerjaan enak, menikah muda, bahagia. Tapi teringat ucapannya soal bapak tukang racun tikus, membuatku tersenyum dan malu sendiri.
Akhir-akhir ini, aku kembali merenungi perkataan Karin dan segala kisah bersama Karin kala itu. Minggu lalu aku diminta tolong ibuku tuk membeli sesuatu di Tanah Abang. Suara gebrak kaki pada lempeng baja saat orang-orang berlarian transit di stasiun Duri terdengar hening di relung hati. Pikiranku membawa mataku kembali melihat kenangan dulu, saat orang-orang berlari, aku sengaja berjalan pelan, menikmati setiap renungan didalam diriku, menerawang jauh kesetiap sudut stasiun. Ternyata, hening itu menenggelamkan aku lebih jauh kedalam sepi.
Yups, rejeki gak akan tertukar, jodoh juga, hehe
Komentar
Posting Komentar