Masih sama seperti hari kemarin. Dinginnya musim Januari, masih melekat pada permukaan kulit kuningku. Masih merindukan kebekuan yang itu. Masih belum beranjak dari kebisuan yang syahdu.
Musim Januari, malam ini akan berakhir. Namun masih kuimpikan kebeningan embun yang waktu itu. Masih kupeluk bayangan pagi yang mesra waktu itu. Masih tertancap disini, keyakinan yang pernah kupaku. Terletak dipusat padang luka-lukaku.
Musim Januari, dibelai aku oleh kemesraan kabut. Dibelai aku oleh kelembutan kulit sang kabut. Tebawa aku pada aliran gemericik sungai. Ikut melompat-lompat mengikuti irama riaknya.
Namun ya, musim Januari malam ini akan berakhir. Sepenggal mendung terkubur bersama musim Januari. Saat orang-orang terbangun dengan harapan-harapan baru. Saat aku meluncur pertama kali menghirup udara dan menghisap susu ibu.
Iya, musim Januari benar akan berlalu.
Iya, musim Januari benar akan berlalu.
Aku akan melepasmu dengan harapan. Meski kabut hanya sekejap merayu-rayu. Meski ia telah kembali pada ribaan alam sebelum musim Januari berlalu.
Aku terhentak, ternyata masih tertancap disini, keyakinan yang kupaku waktu itu. Masih tepat disini, terletak dipusat padang luka-lukaku.
Masih terpaku disini, hingga kau memelukku, hingga aku memelukmu, disepanjang musim Januariku.
Masih terpaku disini, hingga kita merayakan musim Januari ditaman surga yang pernah kau ceritakan dulu.
Aku terhentak, ternyata masih tertancap disini, keyakinan yang kupaku waktu itu. Masih tepat disini, terletak dipusat padang luka-lukaku.
Masih terpaku disini, hingga kau memelukku, hingga aku memelukmu, disepanjang musim Januariku.
Masih terpaku disini, hingga kita merayakan musim Januari ditaman surga yang pernah kau ceritakan dulu.
Cengkareng, 31-Januari-2016
Komentar
Posting Komentar